LIVE
Indeks
Aceh

Kurikulum Holistik: Pesantren dan Sekolah Diminta Tak Lagi Biarkan Nilai Tersembunyi

Pembicaraan soal kurikulum holistik kembali menguat di kalangan pemerhati pendidikan Islam menjelang Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) yang dijadwalkan berlangsung 5–6 September 2026 di Jakarta. Forum yang akan mempertemukan pemimpin lembaga pendidikan, akademisi, dan pengelola pesantren itu menempatkan kata holistic sebagai poros utama. Bagi pembaca di Banda Aceh dan wilayah sekitarnya—yang akrab dengan tradisi dayah dan madrasah—isu ini terasa dekat karena praktik pendidikan Islam setempat sejak lama menyatukan ruang belajar dengan kehidupan sehari-hari.

Penulis dan pemerhati komunikasi serta pendidikan Islam, M Tata Taufik, dalam catatan yang dimuat media nasional mengingatkan bahwa pesantren sebenarnya sudah lebih dulu hidup dengan pola yang tidak memisahkan keras kelas dan realitas di luar kelas. Justru karena itu, ia mengajukan catatan kritis: jika benar ingin membicarakan pendidikan yang utuh, inti praktik belajar perlu digeser dari sekadar menyadari hidden curriculum menuju perancangan holistic curriculum secara sadar.

Apa yang Sebenarnya Dipelajari Anak di Ruang Kelas

Istilah hidden curriculum bukan lahir dari kekurangan kosakata di dunia akademik. Ia muncul dari kegelisahan melihat pengalaman nyata anak di sekolah. Pada 1968, Philip W. Jackson melalui Life in Classrooms memotret kelas bukan hanya sebagai tempat transfer pelajaran, melainkan sebagai kehidupan sosial mini. Di sana ada siswa yang aktif dan sering dipuji, ada yang menunggu lama tanpa dipilih, ada yang menarik diri pelan-pelan meski hadir setiap hari.

Anak yang jarang ditanya dan jarang mendapat apresiasi tetap belajar. Hanya saja yang dipelajari sering kali bukan materi yang diukur di rapor. Mereka menangkap kapan boleh berbicara, bagaimana rasanya tidak dipilih, siapa yang mendapat perhatian, serta perilaku mana yang mendatangkan teguran. Jackson merangkum dinamika itu antara lain lewat crowds, praise, and power—kerumunan, penghargaan, dan relasi kuasa. Di situlah kurikulum tersembunyi bekerja: tidak tertulis di silabus, tidak diujikan di akhir semester, tetapi meninggalkan jejak dalam diri peserta didik.

Dari Menemukan yang Tersembunyi ke Merancang yang Utuh

Setelah lebih dari setengah abad konsep itu dibahas, pertanyaan yang diajukan Taufik cukup tajam. Jika kurikulum tersembunyi sudah diketahui tempatnya, mengapa dibiarkan terus tersembunyi? Menemukan saja tidak cukup. Pendidikan, menurutnya, bukan sekadar pekerjaan detektif, melainkan pekerjaan desain. Lingkungan yang mendidik harus dirancang. Hubungan antarwarga sekolah harus diperhatikan. Penghargaan dan teguran perlu dikelola. Pengalaman peserta didik tidak boleh terus diperlakukan sebagai produk sampingan.

Pergeseran menuju kurikulum holistik berarti memasukkan pengalaman, relasi, dan pembentukan karakter ke jantung rancangan belajar itu sendiri. Bukan menolak jasa konsep hidden curriculum, melainkan menolak membiarkannya liar tanpa arah. Bagi lembaga pendidikan di Aceh yang banyak berpijak pada nilai keislaman dan kebersamaan, langkah ini sejalan dengan harapan agar proses belajar membentuk manusia utuh, bukan hanya mengejar angka ujian.

Kerangka Holistik: Keseimbangan, Ketercakupan, Keterhubungan

John P. Miller memberi kerangka yang terang untuk pendidikan holistik. Tujuannya mengembangkan manusia secara keseluruhan: intelektual, emosional, fisik, sosial, estetis, hingga spiritual. Tiga pilar yang ia tekankan adalah balance, inclusion, dan connection—keseimbangan, ketercakupan, dan keterhubungan. Artinya, membesarkan kemampuan kognitif sambil membiarkan hati, tubuh, relasi sosial, dan kehidupan batin berjalan sendiri-sendiri justru menjauhkan sekolah dari misi utamanya.

Dalam konteks dayah dan sekolah Islam, dimensi spiritual dan sosial biasanya sudah kental. Tantangannya justru memastikan dimensi itu tidak berhenti pada kebiasaan turun-temurun, melainkan masuk ke perencanaan kurikulum yang terukur, inklusif, dan terhubung dengan kehidupan peserta didik di luar tembok lembaga. Summit GIHES 2026 dapat menjadi ruang saling belajar antarpengelola agar praktik baik tidak hanya diwariskan secara diam-diam, tetapi dirumuskan secara terbuka.

Mengapa Wacana Ini Relevan bagi Banda Aceh

Banda Aceh dan daerah-daerah di Aceh memiliki ekosistem pendidikan agama yang kuat, dari dayah tradisional hingga madrasah modern. Wacana mengangkat pengalaman tersembunyi ke permukaan kurikulum holistik memberi sudut pandang praktis: bagaimana memastikan setiap santri atau siswa—termasuk yang pendiam dan jarang menonjol—tetap merasa terlihat, dihargai, dan terbina. Tanpa mengada-ada data lokal baru, arah pembicaraan nasional ini cocok dijadikan bahan refleksi internal lembaga-lembaga pendidikan di tanah rencong.

  • Merancang lingkungan belajar yang sadar akan dampak sosialnya
  • Mengelola pujian dan teguran agar adil serta membentuk karakter
  • Menghubungkan aspek intelektual, sosial, dan spiritual dalam satu rancangan
  • Menjadikan pengalaman peserta didik bagian inti, bukan sisa kurikulum

Menjelang pertemuan internasional tersebut, publik pendidikan di Aceh dapat menyimak bahwa perdebatan bukan semata soal istilah asing. Intinya sederhana: anak belajar dari apa yang ia alami. Jika pengalaman itu mendidik, pengalaman itu wajib dirancang. Mengeluarkan pendidikan dari “persembunyiannya” berarti berani menuliskan, mengelola, dan mengevaluasi hal-hal yang selama ini hanya dibiarkan terjadi.

Pada akhirnya, pergeseran dari kesadaran akan hidden curriculum menuju holistic curriculum menuntut kerja sama guru, pengelola pesantren, orang tua, dan pembuat kebijakan. Forum seperti GIHES di Jakarta pada September 2026 menjadi pengingat waktu: kesempatan untuk menyamakan bahasa tentang pendidikan utuh sudah di depan mata. Lembaga di Aceh yang sudah punya akar holistik secara kultural justru berpeluang menampilkan praktik yang matang apabila berani merumuskannya secara sistematis.

Sumber: Republika.

Tag: kurikulum holistik, pendidikan Islam, pesantren, GIHES 2026, dayah Aceh, hidden curriculum, Banda Aceh, sekolah