LIVE
Indeks
Dunia

Madrid Kerahkan Pasukan ke Ceuta Usai Lonjakan Migran Maroko

Krisis migran Ceuta memaksa pemerintah pusat di Madrid mengambil langkah tegas. Perdana Menteri Pedro Sanchez mengumumkan pengerahan angkatan bersenjata ke wilayah otonom Spanyol yang berbatasan langsung dengan Maroko itu, menyusul lonjakan penyeberangan ilegal dalam sepekan terakhir. Bagi pembaca di Banda Aceh yang mengikuti dinamika global, situasi di enclave Afrika Utara ini kembali mengingatkan betapa isu migrasi lintas batas tetap menjadi ujian bagi stabilitas regional Eropa.

Pernyataan resmi Sanchez disampaikan melalui akun media sosial X pada Kamis, 30 Juli 2026. Ia menegaskan komitmen penuh pemerintah untuk memberi respons cepat terhadap kondisi di Ceuta, sekaligus memastikan keamanan warga dan penegakan hukum di perbatasan.

Lonjakan kedatangan dan temuan korban di laut

Media lokal Spanyol melaporkan sekitar 1.500 migran asal Maroko tiba di Ceuta dalam kurun waktu sepekan. Sebagian menyeberang dengan berenang, sementara yang lain berjalan kaki melintasi titik perbatasan. Angka pasti belum dikonfirmasi secara resmi oleh otoritas pusat.

Laporan harian El Pais menyebut setidaknya 18 orang tewas saat mencoba menyeberang lewat laut. Secara terpisah, otoritas Spanyol menemukan sembilan jenazah yang diyakini milik orang-orang yang tenggelam dalam gelombang penyeberangan terbaru. Otopsi masih diharapkan untuk memastikan penyebab kematian secara definitif. Data setempat juga menyebutkan lebih dari 1.500 orang masuk ke Ceuta dengan berenang hanya dalam waktu sedikit lebih dari seminggu.

Mobilisasi militer dan kunjungan pejabat ke lapangan

Madrid mengumumkan angkatan bersenjata telah dimobilisasi untuk membantu Garda Sipil mengamankan seluruh kota. Langkah itu merespons permintaan bantuan dari pemerintahan otonom Ceuta kepada pemerintah pusat. Sanchez menyampaikan pesan kepada Presiden wilayah Ceuta, Juan Vivas, bahwa saatnya membangun solusi dengan tanggung jawab dan kerja sama.

Pada Jumat, 31 Juli 2026, Sanchez bersama Menteri Dalam Negeri Fernando Grande-Marlaska bertolak ke Ceuta untuk meninjau situasi secara langsung. Pemerintah Spanyol juga menyatakan akan berkoordinasi dengan otoritas Rabat serta komunitas internasional guna menanggulangi krisis pengungsi di kawasan tersebut.

Situasi di sisi Maroko dan tekanan massal di perbatasan

Kantor berita EFE melaporkan ratusan ribu orang berkumpul di dekat perbatasan yang memisahkan kota Castillejos di Maroko dengan Ceuta, dalam upaya terkoordinasi memasuki wilayah Spanyol. Pasukan keamanan Rabat membentuk barikade di sejumlah titik dan menahan puluhan orang. Pergerakan massa itu disinyalir bertepatan dengan peringatan 27 tahun penobatan Raja Mohammed VI.

Otoritas Maroko menyatakan belum mengetahui pemicu pastinya gelombang besar di perbatasan. Dewan Juru Bicara Majelis Ceuta, pada Kamis pagi, menilai respons awal pemerintah Spanyol “jelas tidak memadai”. Dalam pernyataan bersama, mereka menuntut komitmen lebih kuat dan tindakan segera, serta menggambarkan situasi sebagai sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang memberi tekanan luar biasa pada kapasitas kota.

Reaksi Italia terkait Schengen dan kewarganegaraan

Di level Eropa, Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani mendukung penangguhan partisipasi Spanyol di kawasan Schengen. Ia menilai imigrasi ilegal yang berlangsung rentan dan berisiko bagi keamanan nasional. Tajani mengkritik kebijakan Madrid yang menurutnya memberi kewarganegaraan Spanyol—dan dengan demikian kewarganegaraan Eropa—kepada lebih dari 500.000 imigran ilegal, serta dinilai mendorong perdagangan manusia.

Perkembangan di Ceuta memperlihatkan kompleksitas pengelolaan perbatasan luar Uni Eropa. Kerja sama bilateral dengan Rabat, penguatan keamanan internal, dan dialog di forum internasional menjadi jalur yang disebut pemerintah Spanyol akan ditempuh. Pemantauan situasi di lapangan, termasuk verifikasi jumlah pendatang dan penanganan korban, masih berlangsung.

Bagi publik internasional, termasuk di Aceh, krisis ini menjadi rujukan penting soal bagaimana negara menghadapi lonjakan migrasi mendadak tanpa mengorbankan hak asasi dan stabilitas kota perbatasan. Langkah militer bersifat pendukung keamanan sipil, sementara solusi jangka menengah tetap bergantung pada diplomasi dan penataan arus lintas batas yang lebih terukur.

Sumber: Tempo.

Tag: Ceuta, migran Maroko, Pedro Sanchez, militer Spanyol, perbatasan, Schengen, imigrasi ilegal, Maroko