Memperbanyak makna selawat Maulid pada peringatan kelahiran Rasulullah SAW sering dipahami sebatas ekspresi rindu. Padahal, menurut KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha, amalan itu sekaligus meneguhkan pengakuan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah makhluk termulia, tetap dalam posisi hamba Allah. Penjelasan Rais Syuriah PBNU ini relevan bagi masyarakat Banda Aceh dan Aceh yang sudah lama merayakan Maulid dengan pembacaan selawat di meunasah, dayah, dan masjid.
Dalam ceramah Maulid yang dikutip dari penjelasan beliau, Gus Baha menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah makhluk paling layak menerima selawat dari Allah. Redaksi yang akrab di lidah umat—Allâhumma shalli ‘alâ sayyidinâ Muhammad—mengandung dua pengakuan besar: Allah sebagai Dzat Yang Maha Pemberi, dan Rasulullah sebagai kekasih-Nya yang meski derajatnya tinggi tetap membutuhkan rahmat Tuhan.
Dua unsur akidah dalam redaksi selawat
Gus Baha menekankan bahwa membaca selawat menjaga akidah pembacanya. Di dalamnya ada pengakuan tauhid sekaligus pengakuan kenabian. Dengan mengucapkan doa tersebut, seseorang mengakui Allah sebagai Tuhan yang memberi, sekaligus meyakini Muhammad SAW sebagai makhluk pilihan, bukan sesembahan.
Argumen itu disandarkan pada keterangan Sayyid Az-Zabidi dalam kitab Itḫâfus Sâdâtil Muttaqîn. Betapapun luhur kedudukan Nabi, beliau tetap butuh rahmat dan keutamaan Allah. Pandangan ini mencegah umat menempatkan Rasulullah setara dengan Tuhan, sambil tetap memuliakan beliau setinggi-tingginya.
Pelajaran dari kesalahan umat terdahulu
Gus Baha membandingkan sikap umat Islam dengan kesalahan fatal sebagian umat Nasrani yang menuhankan Nabi Isa, serta tuduhan sebagian Yahudi yang merendahkan beliau. Umat Muhammad SAW, katanya, mengagungkan Rasul sebagai hamba Allah tanpa melampaui batas.
Dengan demikian, kecintaan kepada Nabi tidak bergeser menjadi penyembahan. Batas ini yang membuat redaksi selawat berfungsi sebagai pelindung keyakinan hingga hari kiamat, karena di dalamnya tetap jelas siapa Tuhan dan siapa utusan-Nya.
Pesan Qasidah Burdah dan batas memuji Nabi
Penjelasan serupa ia kaitkan dengan bait Qasidah Burdah karya Imam Al-Bushiri. Umat diminta menjauhi kekeliruan Nasrani terhadap nabi mereka, lalu memuji Muhammad SAW sesuka hati dalam koridor yang benar. “Silakan memuji Nabi setinggi langit, tetapi tinggalkan kesalahan menuhankan,” ringkas Gus Baha.
Pesan itu memberi ruang luas bagi pujian, selawat, dan shalawat nariyah yang ramai digaungkan di Aceh setiap musim Maulid, selama tidak menggeser status Rasulullah dari hamba menjadi ilah. Bagi warga Banda Aceh, tradisi ratéb dan pembacaan barzanji dapat dipadukan dengan pemahaman akidah ini agar amalan tidak berhenti di seremoni.
Manfaat selawat bagi umat di hari pembalasan
Menurut Gus Baha, redaksi Allâhumma shalli ‘alâ sayyidinâ Muhammad kelak menjadi penolong di hari kiamat. Unsur penjagaan akidah di dalamnya—mengakui Allah dan mengakui Nabi sebagai makhluk—menyelamatkan pembacanya dari penyimpangan yang pernah menimpa umat sebelumnya.
- Mengakui Allah sebagai Pemberi selawat dan rahmat
- Menetapkan Nabi Muhammad SAW sebagai hamba dan kekasih Allah
- Menjaga batas antara penghormatan dan penyembahan
- Menguatkan cinta Rasul tanpa mengorbankan tauhid
Dengan memahami makna tersebut, memperbanyak selawat di bulan Maulid menjadi ibadah yang menyentuh hati sekaligus menjernihkan keyakinan. Umat di Banda Aceh dan wilayah lain dapat menjadikan momentum ini ajang mempererat cinta kepada Nabi tanpa meninggalkan fondasi tauhid yang beliau bawa.
Kesimpulannya, selawat bukan hanya simbol kasih sayang. Ia adalah pengakuan ganda yang menempatkan Allah sebagai Tuhan dan Muhammad SAW sebagai makhluk terbaik yang tetap membutuhkan rahmat-Nya—amalan yang diharapkan menjadi bekal keselamatan di akhirat.
Sumber: Sindo News.
