Fenomena cut off politik Gen Z makin sering muncul di media sosial: unfollow, blokir akun, hingga mengakhiri pertemanan hanya karena pilihan kandidat atau sikap terhadap isu publik berbeda. Bagi sebagian anak muda, perbedaan itu masih bisa diterima selama ada saling hormat. Bagi yang lain, berteman dengan orang berpandangan berseberangan justru terasa melelahkan secara emosional. Di kota-kota besar hingga Banda Aceh, percakapan serupa kerap terdengar di ruang digital anak muda yang aktif mengikuti isu sosial-politik.
Pola ini tidak selalu berangkat dari konflik personal. Isu kebijakan, sikap terhadap peristiwa kemanusiaan, atau preferensi elektoral cukup menjadi pemicu jarak. Ketika ruang daring membesarkan suara masing-masing kubu, batas antara perdebatan gagasan dan penilaian terhadap pribadi seseorang menjadi kabur.
Identitas kelompok di balik pilihan politik
Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Haryono, menilai preferensi politik Gen Z tidak semata soal program atau isu teknis. Secara sosiologis, pilihan tersebut sering menjadi penanda identitas kelompok. Seseorang merasa berada di lingkaran “kita”, sementara yang berbeda masuk kategori “mereka”.
Ketika identitas sudah menyatu dengan kubu tertentu, perbedaan pendapat mudah terbaca sebagai ancaman terhadap jati diri atau komunitas. Akibatnya, reaksi yang muncul bukan lagi diskusi, melainkan penarikan diri dari relasi. Inilah yang membuka jalan pada keputusan cut off, dari yang bersifat sementara hingga yang berlangsung lama.
Cut off sementara lumrah, yang permanen bermasalah
Menurut Rakhmat, memutus kontak dalam relasi sosial sejatinya hal biasa bila muncul ketegangan. Yang perlu diwaspadai adalah cut off yang menjadi permanen. Kondisi itu dinilai tidak sehat bagi kehidupan bermasyarakat karena menutup ruang perbaikan hubungan dan memperkeras sekat antarkelompok.
Ia menekankan agar perbedaan pandangan tidak merembet ke persoalan yang lebih sensitif, termasuk isu yang berbau SARA. Menjaga jarak sejenak untuk menenangkan diri masih dapat diterima. Menjadikan perbedaan politik sebagai alasan putus total dalam jangka panjang justru menyimpan risiko sosial yang lebih dalam.
Politisasi gaya hidup dan ancaman polarisasi
Rakhmat mencermati pergeseran: politik bagi Gen Z kian menyatu dengan identitas moral dan gaya hidup. Pilihan politik berpadu dengan konsumsi budaya, estetika, hingga kebiasaan di media sosial. Ada pula moralisasi politik, yakni menilai isu dalam kerangka benar–salah secara moral sehingga kompromi terasa seperti pengkhianatan prinsip.
Bila cut off permanen merajalela, polarisasi bisa melebar dari sekadar beda pilihan menjadi sekat identitas dan latar sosial. Dalam jangka panjang, situasi itu berpotensi menumbuhkan konflik laten—ketegangan yang tertanam dan siap muncul kembali. Di lingkungan pemuda yang beragam, termasuk di Aceh yang menjunjung kohesi sosial, kemampuan hidup berdampingan dengan perbedaan menjadi modal penting.
Pendidikan politik yang kritis untuk Gen Z
Solusi yang ditawarkan bukan melarang anak muda punya sikap, melainkan memperkuat pendidikan politik yang kritis dan menarik. Perbedaan pilihan seharusnya dilatih sebagai bagian dari hidup bersama dalam keberagaman, bukan pemicu permusuhan personal.
Rakhmat menyarankan cut off, jika terpaksa, cukup bersifat sementara tanpa perlu permusuhan berkepanjangan. Menjaga saluran komunikasi, memisahkan gagasan dari harga diri, serta menghindari framing moral yang kaku dapat menahan laju polarisasi di lingkar pertemanan.
- Bedakan kritik kebijakan dari penilaian terhadap karakter teman.
- Batasi paparan konten yang hanya memperkuat satu kubu.
- Utamakan dialog singkat yang sopan ketimbang debat publik yang memojokkan.
- Izinkan jeda relasi tanpa menjadikan putus kontak sebagai hukuman permanen.
Pada akhirnya, ruang demokrasi membutuhkan warga yang mampu berselisih pendapat tanpa merobek jaringan sosial. Gen Z yang melek isu publik justru punya peluang menjadi generasipenjaga nalar bersama—asal perbedaan tidak otomatis diubah menjadi permusuhan abadi. Bagi pembaca muda di Banda Aceh dan sekitarnya, menumbuhkan kebiasaan berdiskusi sehat di kampus, komunitas, dan media sosial adalah investasi sosial jangka panjang.
Sumber: Liputan6.
