Suasana tenda pengungsian di Lapangan Barangkolong, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, berubah lebih ringan ketika Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Mochamad Iriawan duduk bersama anak-anak korban gempa. Kehadirannya pada Rabu, 26 Agustus 2026, menjadi bagian dari rangkaian peninjauan wilayah Flores yang terdampak gempa. Bagi pembaca di Banda Aceh yang akrab dengan cerita kebencanaan, momen ini mengingatkan pentingnya kehadiran institusi negara di lapangan, bukan hanya di pusat distribusi.
Iriawan, yang akrab dipanggil Iwan Bule, tidak membatasi kunjungan pada inspeksi gudang atau posko logistik. Ia menyempatkan diri menyapa warga satu per satu, menyanyi bersama anak-anak di tenda, lalu mendengarkan keluhan sehari-hari para pengungsi. Langkah itu menegaskan bahwa penanganan pascabencana mencakup pasokan energi sekaligus sisi kemanusiaan.
Rangkaian kunjungan ke wilayah terdampak Flores
Dalam beberapa hari terakhir, Komisaris Utama Pertamina menempuh road show ke sejumlah titik di NTT yang merasakan dampak gempa. Fokusnya mencakup kesiapan infrastruktur energi, kelancaran distribusi BBM dan LPG, serta penyaluran bantuan langsung ke masyarakat. Di Reok, titik singgah pertamanya adalah Posko Pertamina Peduli di Lapangan Barangkolong.
Menurut penuturan di lokasi, warga menyampaikan kondisi hunian sementara, kebutuhan pokok yang belum merata, dan persoalan praktis selama mengungsi. Iriawan menekankan bahwa kunjungan bertujuan mendengar kebutuhan secara langsung, bukan sekadar meninjau dari kejauhan.
Interaksi dengan anak-anak dan suasana tenda pengungsian
Di tengah keprihatinan pascagempa, tawa anak-anak kembali terdengar dari tenda pengungsian. Iriawan duduk bersama mereka dan ikut bernyanyi, menciptakan jeda singkat dari ketegangan. Interaksi sederhana itu membantu meredakan suasana di lokasi yang masih rawan ketidakpastian hunian dan layanan dasar.
Pendekatan tersebut sejalan dengan peran Pertamina Peduli yang menempatkan bantuan di dekat warga. Kehadiran pimpinan perusahaan di tenda pengungsian memberi sinyal bahwa distribusi bantuan diawasi hingga ujung penerima, termasuk kelompok rentan seperti anak-anak.
Keluhan warga dan komitmen mendengar di lapangan
Percakapan berlangsung akrab. Pengungsi menguraikan persoalan tempat tinggal sementara, kebutuhan harian, serta hal-hal yang masih kurang di posko. Iriawan menyampaikan bahwa pihaknya datang untuk menyimak apa yang dirasakan dan dibutuhkan saudara-saudara di lokasi terdampak.
Komitmen itu menempatkan Pertamina pada dua jalur sekaligus: menjaga pasokan energi agar tidak terputus di tengah bencana, dan memastikan bantuan kemanusiaan tepat sasaran. Model kehadiran langsung ini relevan dipantau publik di daerah lain, termasuk Aceh, yang kerap menilai respons BUMN dari ketepatan di lapangan.
Arti penting pasokan energi saat tanggap darurat
Gempa di wilayah Flores memaksa banyak warga mengungsi, sementara layanan dasar dan mobilitas logistik bergantung pada energi. Peninjauan infrastruktur dan stok menjadi krusial agar transportasi bantuan, penerangan posko, dan kebutuhan rumah tangga tidak tersendat. Kunjungan Iriawan menggabungkan pengecekan teknis dengan dialog sosial di Reok.
Dengan mendengar keluhan secara langsung, perusahaan dapat menyesuaikan jenis bantuan dan prioritas penyaluran. Langkah tersebut memperkuat kepercayaan warga bahwa bantuan tidak berhenti pada seremoni, melainkan berlanjut pada pemenuhan kebutuhan nyata di pengungsian.
Secara keseluruhan, kunjungan ke Lapangan Barangkolong memperlihatkan wajah operasional Pertamina saat bencana: hadir di posko, menyapa anak-anak, menampung keluhan pengungsi, dan mengawal distribusi energi. Publik di Banda Aceh dan daerah lain dapat menjadikan pola ini rujukan singkat soal akuntabilitas BUMN di lapangan. Pemulihan warga NTT masih berjalan; kehadiran berkelanjutan di tingkat tapak tetap menjadi ukuran utama.
Sumber: Sindo News.
