Desakan agar bahasa info bencana lebih mudah dipahami kembali mengemuka di rapat kerja antara anggota Komisi V DPR dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Di Jakarta, Selasa (8/9/2026), legislator menegaskan isi peringatan harus sampai ke warga awam tanpa terhambat istilah yang terasa kaku atau terlalu teknis. Bagi pembaca di Banda Aceh dan wilayah rawan gempa lainnya, kejelasan pesan dini sangat menentukan langkah cepat saat situasi mendesak.
Permintaan itu muncul karena tidak semua masyarakat akrab dengan rumusan yang kerap muncul di siaran resmi. Anggota dewan menilai, ketika informasi hanya mengandalkan frasa khas lembaga atau keluaran sistem, sebagian warga justru bingung tentang apa yang akan terjadi dan apa yang harus dilakukan.
Desakan legislator soal bahasa yang mudah dipahami
Boyman Harun dari Komisi V DPR meminta BMKG tidak lagi menyiarkan peringatan dengan gaya yang terkesan seperti bahasa komputer atau istilah internal lembaga. Ia menekankan pentingnya menggunakan bahasa sehari-hari agar publik benar-benar mengerti risiko yang sedang berkembang.
Menurutnya, tujuan utama penyampaian peringatan adalah kewaspadaan bersama. Jika kalimatnya sulit ditangkap, potensi respons masyarakat justru melambat. Desakan itu disampaikan langsung dalam forum raker bersama jajaran BMKG.
Respons BMKG: sudah berupaya, tapi butuh proses
Sekretaris Utama BMKG Guswanto menjelaskan bahwa lembaga telah berupaya menyesuaikan cara penyampaian agar lebih ramah bagi warga. Penyesuaian tersebut mencakup pengemasan pesan agar tidak hanya akurat secara ilmiah, tetapi juga dapat ditangkap orang awam.
Meski demikian, Guswanto menilai perubahan gaya komunikasi tidak bisa selesai seketika. Diperlukan waktu untuk merapikan format, menyelaraskan istilah, dan memastikan substansi teknis tetap utuh tanpa membuat pembaca kebingungan.
Mengapa kejelasan pesan penting bagi daerah rawan
Aceh, termasuk kawasan Banda Aceh dan pesisir sekitarnya, memiliki pengalaman panjang terkait gempa dan ancaman tsunami. Dalam kondisi seperti itu, kecepatan memahami peringatan sering kali sama pentingnya dengan kecepatan data itu sendiri.
Pesan yang ringkas dan lurus membantu keluarga, petugas lapangan, serta komunitas lokal mengambil keputusan: mengungsi, menjauh dari pantai, atau tetap waspada di tempat aman. Bahasa yang berbelit justru berisiko menunda tindakan di menit-menit kritis.
- Gunakan kalimat singkat tentang apa yang terjadi
- Jelaskan dampak yang mungkin dirasakan warga
- Sertakan arahan praktis yang bisa langsung diikuti
- Hindari singkatan atau istilah yang hanya familiar di kalangan ahli
Tantangan menyeimbangkan akurasi dan keterbacaan
BMKG tetap dituntut menjaga ketepatan data ilmiah. Di sisi lain, publik membutuhkan ringkasan yang tidak membingungkan. Keseimbangan itu menjadi pekerjaan rumah komunikasi kebencanaan yang terus digarap.
Transformasi bahasa peringatan biasanya melibatkan uji coba redaksi, pelatihan juru penerang, serta koordinasi dengan pemerintah daerah dan media. Proses tersebut memang memakan waktu, namun dianggap penting agar pesan resmi tidak berhenti di kalangan yang sudah terbiasa membaca laporan teknis.
Bagi warga Banda Aceh, mengikuti kanal resmi BMKG dan pemerintah setempat tetap langkah bijak. Sambil menunggu penyederhanaan bahasa yang lebih merata, memahami arahan dasar kesiapsiagaan di lingkungan masing-masing tetap relevan. Kejelasan informasi dan kesiapan komunitas berjalan beriringan dalam mengurangi risiko.
Rapat di DPR menjadi pengingat bahwa peringatan dini hanya efektif jika isinya benar-benar sampai. Desakan legislator dan jawaban BMKG tentang perlunya waktu menunjukkan arah yang sama: data akurat harus dibungkus bahasa yang bisa langsung dipahami masyarakat luas.
Sumber: Sindo News.
