LIVE
Indeks
Aceh

Memaknai Maulid Nabi 2026: Keutamaan Spiritual Umat Muslim

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW kembali menjadi momen penting bagi umat Islam di Indonesia, termasuk di Banda Aceh dan seluruh Aceh. Fokus utamanya bukan sekadar seremoni, melainkan memahami keutamaan maulid nabi yang diajarkan para ulama agar amalan berjalan dengan niat yang lurus.

Menurut riwayat yang paling masyhur, Maulid jatuh pada 12 Rabiul Awal. Tahun ini momentum tersebut bertepatan dengan Selasa, 25 Agustus 2026. Di banyak daerah, termasuk Aceh yang kental dengan tradisi keislaman, peringatan diisi pembacaan selawat, pengajian kitab maulid, sedekah kepada yang membutuhkan, hingga doa bersama di masjid dan meunasah.

Rujukan ulama soal keutamaan maulid

Dalam satu kajian, Habib Quraisy Baharun menyampaikan sejumlah keutamaan memperingati kelahiran Rasulullah SAW. Penjelasan itu merujuk Kitab An-Ni’matul Kubra ‘alal ‘Alami fi Maulidi Sayyidi Waladi Adam karya Imam Ibnu Hajar Al-Haitami (909–974 H / 1503–1566 M).

Dari rujukan tersebut, umat diajak melihat Maulid sebagai kesempatan menghidupkan kecintaan kepada Nabi, memperkuat ukhuwah, serta menumbuhkan amal sosial. Beberapa riwayat sahabat yang dikutip dalam kajian itu menggambarkan pahala besar bagi siapa pun yang bersungguh-sungguh mengagungkan momen kelahiran beliau.

Tiga riwayat sahabat yang sering dikutip

Pertama, dinukil dari Sayyidina Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu bahwa barang siapa mengeluarkan harta untuk pembacaan maulid Nabi, ia digambarkan akan menjadi teman beliau di surga. Riwayat ini menekankan sisi infak dan dukungan terhadap majelis selawat.

Kedua, dari Sayyidina Umar radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa mengagungkan maulid Nabi berarti menghidupkan Islam. Maknanya, peringatan yang benar mendorong umat kembali pada sunah, akhlak, dan semangat dakwah yang damai.

Ketiga, Sayyidina Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu menyampaikan bahwa belanja untuk pembacaan maulid digambarkan seakan-akan ikut menyaksikan Perang Badar dan Hunain. Poin ini sering dibaca sebagai perumpamaan pahala besar, bukan pengganti kewajiban syariat yang lain.

Syafaat, terjaga dari bala, dan kebahagiaan

Selain tiga riwayat di atas, kajian yang sama menyebut keutamaan lain yang banyak diharapkan umat: memperoleh syafaat, dijauhkan dari bala serta marabahaya, serta meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat. Harapan itu selaras dengan praktik memperbanyak selawat dan memperbaiki hubungan sosial selama musim maulid.

Bagi pembaca di Banda Aceh, pesan tersebut mudah dihubungkan dengan suasana masjid raya, pengajian kampung, dan tradisi menjamu tetangga. Yang perlu dijaga adalah niat ikhlas, menjauhi pemborosan, serta memastikan acara tetap beradab dan bermanfaat bagi fakir miskin.

  • Memperbanyak selawat dengan adab
  • Membaca atau menyimak kitab maulid di bawah bimbingan yang kompeten
  • Memberi makan dan bantuan kepada yang membutuhkan
  • Menjaga kekhusyukan, bukan sekadar kemeriahan

Makna praktis bagi keluarga dan komunitas

Maulid dapat menjadi ruang edukasi keluarga. Orang tua bisa menuturkan sirah Nabi secara sederhana kepada anak, menekankan kejujuran, kasih sayang, dan keteguhan. Komunitas dapat menggelar kajian singkat agar pemahaman tidak berhenti pada seremoni.

Di tingkat warga, gotong royong menyiapkan hidangan atau membersihkan tempat ibadah menjadi wujud nyata kecintaan kepada sunah. Pendekatan ini cocok dengan karakter sosial masyarakat Aceh yang terbiasa berkumpul di meunasah untuk urusan keagamaan dan kemasyarakatan.

Pada akhirnya, memperingati Maulid Nabi SAW paling bernilai bila mendorong perbaikan diri: lebih disiplin salat, lebih dermawan, dan lebih santun dalam bergaul. Dengan begitu, keutamaan yang disebut para ulama tidak hanya dibaca, tetapi diwujudkan dalam laku sehari-hari hingga lama setelah 12 Rabiul Awal berlalu.

Sumber: Sindo News.

Tag: maulid nabi, keutamaan maulid, 12 rabiul awal, selawat nabi, islam aceh, banda aceh, sirah nabawiyah, pengajian maulid